Tiga malam terakhir dibulan ramadhan tentu bukan hal yang asing bagi masyarakat kita “Gorontalo” siapa saja pasti akan teringat pada dua kata yang dipadu menjadi satu, namun memberi makna luas, yaitu Tumbilotohe. Dari segi bahasa, Tumbilotohe berasal dari kata Tumbilo yang berarti pasang dan kata Tohe yang berarti lampu, jadi secara keseluruhan kata Tubilotohe berarti pasang lampu. Dari segi istilah, kata tumbilotohe sendiri menitikberatkan pada sifat kearifan lokal, sebuah aktifitas kemanusiaan memasang lampu dipinggirann jalan untuk niat baik yang sifatnya amaliah, apalagi dilakukan dibulan ramadhan.
Tumbilotohe sendiri, merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang tentu saja memiliki nilai spiritual dan emosional antara manusia satu dengan manusia lain, dengan dasar pendidkan bahwa kita terlahir sama, hidup bersosial, hidup saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Dalam proses sejarahnhya, mungkin kita perlu berterimakasih kepada orang-orang terdahulu, yang telah mencanangkan tumbilotohe ini selain sebagai pencegahan perang juga menanamkan nilai moral pada kita.
Sebelumnya saya menulis sedikit tentang tumbilotohe, dimana dengan taktik tumnbilotohe Gorontalo terbebas dari serangan gerombolan bajak laut yang ingin menguasai Gorontalo pada masa lampau. Kali ini saya lebih menyentuh dan menyentil nilai moral yang terkandung didalam pelaksanaan tumbilotohe ditahun-tahun kemudian setelah kejadian isu penyerangan bajak.
Dalam perkembangannya, tumbilotohe dijadikan ajang untuk membangun solidaritas umat manusia, dimana umat islam Gorontalo diajarkan tentang pentingnya membantu orang lain melalui zakat. Dimasa kejayaan Islam di Gorontalo pada masa lampau, tumbilotohe menjadi suatu kegiatan fenomenal, mengapa? Karena hal ini bertepatan dengan bulan ramadhan, dimana dalam biulan ramadhan diwajibkan umat Islam membayar zakat. Disitulah kearifan lokal, tiga malam atau tiga hari terakhir menjelang idul fitri merupakan puncak pembayaran zakat melalui pengurus zakat.
Maka fungsi lampu ini adalah untuk menerangi jalan-jalan yang dilewati masyarakat untuk mengantar zakat, dimana pada waktu itu, seluruh anak-anak muda, orang tua, laki-laki dan perempuan berbondong-bondong mengantar zakat kepada mereka yang berhak menerimanya.
Sisi lain dari makna tumbilotohe adalah, mengajarkan kepada anak-anak khususnya kaum remaja betapa pentingnya membayar zakat. Orang-orang pada masa lampau pun ketika mereka pergi untuk mengantar zakat mereka membawa anak-anak mereka, ini berarti mereka mengajarkan kepada anak, sebuah kewajiban tak bisa dilanggar begitu saja, membantu orang lain adalah wajib bagi manusia, karena manusia diciptkan untuk saling membantu sama lain.
Hal ini terus berkembang hingga sekarang. Jika dulu penerangan lampu dengan menyalakan obor dipinggir jalan dan lamu dipinggiran rumah adalah untuk mendidik generasi, maka bagaimana dengan sekarang, ketika penerangan ada dimana-mana, maka apakah nilai amaliah masih diperhatikan?
Pergeseran nilai atas pemakmanaan tumbilotohe terjadi dimasa kini. Jika dulu lampu digunakan untuk memperlancar orang-oranh untuk ibadah, maka zaman sekarang malah menghambat ibadah.Mengapa? ya perhatikan saja sekarang, ketika malam pasang lampu digelar, dibenak anak-anak remaja kita adalah ingin melihat lampu yang menghiasi banyak tempat termasuk diperkebunan dan persawahan, sementara menuju masjid dan tempat-tempat amaliah ditinggalkan.
Manusia yang menyaksikan tumbilotohe lebih banyak, bahkan rela berdesak-desakan dikemacetan jalan, demi melihat indahnya lampu-lampu. Inilah pergeseran nilainya, tumbilotohe zaman modern tidak lagi bernilai ibadah, melainkan menjauhkan manusia dari ibadah. Banyak orang yang bahkan menjadi korban lakalantas demi memenuhi gairaah untuk mencapai lokasi pemasangan lampu.
Sehingga dalam anggapan masyarakat, tumbilotohe merupakan kegiatan wajib dilakukan, seakan merasa berdosa bila tak menyalakan lampu dihalaman rumahnya. Ini terus teredukasi kepada anak-anak generasi selanjutnya, memaknai tumbilotohe pada persepsi yang keliru. Tumbilotohe dijadikan ajang wisata santai, sekan berjalan dipantai, sementara wisata religinya ditinggalkan.
Apakah kita tidak merasa malu? Mewarisi warisan budaya yang kita salahkan langkahnya, zaman dahulu tumbilotohe memberi nilai ibadah kini malah menjauhkan manusia dari ibadah. Apakah kita tidak malu menggunakan warisan budaya ini dan memahaminya pada konsep yang keliru? Sungguh keliru, bila kita memaknai tumbilotohe dengan pandangan-pandangan yang jauh dari ibadah.
















Good day!! Your internet site seems to be so promising and I hope the you will continue working in the same style.