Risno Ahaya Pelantun Syair Tanggomo

Risno Ahaya Pelantun Syair Tanggomo

Modernisasi cukup ekstrim menghantam buday lokal yang lekat dengan tradisi dan kearifal lokal, modernisasi mau tak mau memporak-porandakan tradisi yang dibangun oleh nenek moyang yang dijadikan warisan untuk kehidupan anak cucu masa depan. Tentu saja ini tantangan anak masa kini yang cukup dilematis antara mempertahankan tradisi keaslian budaya atau mengikuti perkembangan zaman yang cenderung memaksa manusia untuk mengikutinya, termasuk memaksa manusia-manusia untuk melupakan tradisinya.

Itulah yang dihadapi anak bangsa ini, termasuk Gorontalo. Di Gorontalo sendiri mulai terjadi pergeseran nilai meskipun hanya baru terlihat samar-samar namun dikhawatirkan akan merongrong sendi-sendi budaya. Akibat ekstrimnya modernisasi, tiga budaya yang menjadi tradisi Gorontalo mulai redup, terutama dikawasan perkotaan, yaitu Tarian Dana-dana asli, Beladiri Langga, dan syair pendidikan yang biasa disebut Tanggomo.

Dana-dana sendiri telah meregenerasi hingga dua kali, dengan alasan kemajuan budaya Dana-Dana asli ini berkembang menjadi Danres atau Dana-Dana Kreasi, meski dalam ragam tariannya arah gerakan masih menggunakan tarian asli, namun paduan gerakannya telah berubah dengan gerakan caca yang notabennya telah menghilangkan paduan gerakan aslinya. Begitu pula dengan penarinya, dalam tarian asli, dana-dana hanya bisa dimainkan oleh dua atau lebih namun tidak berpasangan, tetapi dalam ragam dana-dana kreasi, menampilkan pasangan laki dan perempuan.

Sebenarnya ini bukanlah masalah, tentu tidak meninggalkan kharismatik tarian itu sendiri, namun sisi lain dari tarian ini adalah menojolkan fanatisme, dimana dimasa lampau begitu ketatnya adat dan agama, laki dan perempuan tidak boleh menari bersama jika bukan suami istri atau saudara, itu sebabnya mengapa dana-dana dimasa lampau hanya bisa dimaikan dikalangan kerajaan Gorontalo saat itu, tujuannya adalah menjaga keaslian dan norma-norma agama yang begitu saat itu. Dan ini telah hilang setelah ekstrimitas modernisasi bangsa telah memporak-porandakan budaya.

Beladiri Langga, ini merupakan seni beladiri yang menjadi milik Gorontalo, dimana seni beladiri ini tidak digunakan untuk membunuh, melainkan menjaga diri, melumpuhkan lawan tetapi tidak diwajibkan untuk hal-hal yang menimbulkan korban jiwa. Disaat saya (admin) masih kecil selalu menonton beladiri ini di setiap pertunjukkan beladiri Gorontalo, namun saat ini, seni beladiri ini redup, akibat masuknya zaman modernisasi, dimana rakyat Gorontalo mulai mengenal Karate, Kempo, Tae Kwondo dan lain-lain.

Padahal jika dilihat gerakan beladiri ini lebih kuat dan lebih tangkas dari beladiri impor dari negera mata cipit. Karena dalam pertunjukkan beladiri Langga beberapa ahli Karate dan Tae Kwondo jatuh terpental ketika ada beberapa orang yang menjajal kelebihan dan kehebatan Langga. Kini, Langga yang menjadi seni beladiri asli Gorontalo yang populer sejak zaman Raja Ilato memimpin Gorontalo, tak terlihat lagi, bahkan orang menyebutnya pun hampir tidak ada.

Tanggomo, saya sendiri belum memahami apa arti tanggomo, tetapi penyebutannya mengarah pada satu seni syair yang pernah populer dimasa lampau. Dalam syair Tanggomo, yang paling diutamakan adalah nasihat. Menurut cerita turun temurun Tanggomo merupakan salah satu media penyebaran Islam di Gorontalo. Jika di jawa Sunan Kalijaga menyebarkan Islam dengan cara seni pewayangan, dan Sunan Bodang dengan Syair Tomboati, maka para wali Gorontalo menggunakan Tanggomo sebagai media penyebaran Islam.

Kini sepuluh tahun lebih Gorontalo terpisah dari Sulawesi Utara, dan berpuluh-puluh tahun budaya ini redup secara perlahan, harapan kami rakyat Gorontalo kepada pemimpin adalah menumbuhkan kembali budaya Gorontalo ini, budaya ini bukan saja sebagai seni kekayaan Gorontalo, melainkan harta karun yang harus di gali kembali.

Salam Mohutato

Admin D’Blogger Gorontalo


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google